Sumsel Maju Terus Untuk Semua
Nasional

Widi Nur Cahyono Meninggal Saat Ditangkap Polisi di Pasuruan, Keluarga Pertanyakan Proses Pengamanan

Aan Pangestu Aug 05, 2026 at 01:08 AM
Share:
EnterPrime News - Kematian Widi Nur Cahyono (43), warga Desa Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menyisakan tanda tanya bagi keluarga. Widi meninggal dunia setelah didatangi dan diamankan anggota Unit Reskrim Polsek Beji di kios jasa pembayaran miliknya, Senin (3/8/2026) sore.

Widi disebut diamankan polisi karena diduga terlibat aktivitas judi online. Namun, keluarga mempertanyakan proses penangkapan tersebut setelah mengetahui Widi meninggal dunia dalam proses pengamanan.

Pihak keluarga mengaku terkejut lantaran sebelumnya Widi tidak diketahui sedang mengalami sakit atau memiliki gangguan kesehatan tertentu. Adik korban, Lukman, mengatakan keluarga tidak mengetahui secara pasti perkara yang dituduhkan kepada kakaknya sebelum polisi datang ke rumah sekaligus kios yang berada di samping kediaman mereka.

Menurut Lukman, kedatangan polisi berlangsung secara tiba-tiba. Ia menyebut sejumlah anggota polisi masuk melalui bagian belakang rumah dan langsung menuju tempat Widi berada.

“Polisi tiba-tiba langsung datang ke rumah, datang ke sini, langsung lewat pintu belakang menangkap kakak saya,” kata Lukman.

https://enterprimenews.com/artikel/3-kades-samosir-kembalikan-uang-usai-dengar-dugaan-korupsi-dana-banjir

Lukman juga mempertanyakan prosedur yang dilakukan aparat saat mengamankan kakaknya. Ia mengaku polisi tidak terlebih dahulu menyampaikan maksud kedatangan kepada keluarga.
Bahkan, menurut keterangannya, anggota keluarga yang saat itu berada di rumah sedang melakukan aktivitas sehari-hari juga tidak sempat diberi penjelasan sebelum polisi masuk.

“Tidak permisi, enggak apa-apa, polisi juga tidak menunjukkan surat penangkapan atau surat perintah tugasnya,” ungkap Lukman.

Keluarga kemudian mendengar suara dari ruangan tempat Widi diamankan. Lukman mengaku mendapat informasi dari anggota keluarga lainnya yang mendengar korban berulang kali meminta ampun. Menurut dia, terdengar pula ucapan korban yang mengeluhkan kesulitan bernapas.

“Adi dan mbak saya itu dengar. Sudah bilang, ‘ampun Pak, ampun Pak, enggak bisa napas’. Sudah bilang seperti itu,” ujar Lukman.

Tidak lama kemudian, keluarga mendatangi ruangan tersebut. Lukman mengaku melihat Widi dalam kondisi tidak bergerak dengan tangan masih dalam keadaan diborgol. Ia juga menyebut terdapat busa yang keluar dari mulut korban.

“Ketika diangkat, sudah tidak ada gerakan. Tapi keterangan dari pihak kepolisian katanya masih ada napas,” sambungnya.

Setelah kondisi Widi memburuk, korban kemudian dibawa ke puskesmas setempat untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, keluarga mengaku menerima keterangan yang berbeda mengenai kondisi Widi saat tiba di fasilitas kesehatan tersebut.

Menurut Lukman, pihak keluarga mendapat penjelasan dari tenaga medis bahwa Widi sudah tidak menunjukkan pergerakan. Upaya pertolongan menggunakan alat pacu jantung juga disebut tidak memberikan respons.

“Dan ketika ada pertolongan alat pacu jantung itu, tidak ada respons. Jadi, di puskesmas sudah tidak bernyawa, meninggal,” jelas Lukman. Perbedaan keterangan mengenai kondisi korban saat dibawa dari lokasi penangkapan hingga tiba di fasilitas kesehatan tersebut menjadi salah satu hal yang dipertanyakan keluarga.

Keluarga juga menyoroti kondisi fisik Widi setelah kejadian. Lukman menyebut terdapat bagian yang tampak membengkak di sekitar telinga kanan korban. Ia mengatakan sebelumnya tidak pernah melihat adanya benjolan tersebut.

“Saat kejadian di kios itu posisinya gelap, lampu tidak menyala. Kalau melihat foto yang beredar, luka di bawah telinga kanan agak benjol,” tuturnya. Menurut Lukman, bagian telinga kanan Widi terlihat berbeda dibandingkan sisi sebelah kiri.

“Telinga sebelah kanan kakak saya itu agak benjol. Benjolnya agak besar, beda dengan yang kiri,” katanya.

Keluarga menyatakan sebelum kejadian tidak ada keluhan kesehatan yang diketahui. Widi juga disebut dalam kondisi sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit yang diketahui keluarga.
Keluarga Duga Ada Penganiayaan

Perwakilan keluarga lainnya, Chairul Anwar, menyampaikan dugaan bahwa Widi mungkin mengalami tindakan kekerasan selama proses pengamanan. Namun, dugaan tersebut masih menjadi pertanyaan keluarga dan belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan medis maupun forensik yang memadai.

https://enterprimenews.com/artikel/tangisan-ratusan-buruh-perempuan-di-cimahi-viral-178-pekerja-pt-namnam-fashion-industries-kena-phk

Menurut Chairul, pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kondisi fisik Widi saat diamankan dengan kematiannya. Keluarga juga membantah dugaan bahwa Widi sedang bermain judi online ketika polisi datang.

Menurut mereka, Widi berada di kios untuk menjalankan pekerjaannya sebagai penyedia jasa pembayaran atau PPOB. Saat itu, Widi disebut sedang menunggu pelanggan yang hendak melakukan pembayaran listrik dan PDAM.

Untuk mengetahui penyebab kematian, jenazah Widi kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Pusdik Brimob Porong. Namun, menurut keterangan keluarga, proses pemeriksaan lebih lanjut belum dapat dilakukan secara maksimal karena keterbatasan dokter yang tersedia.

Keluarga menyebut di rumah sakit tersebut hanya terdapat dokter jaga dan tidak tersedia dokter spesialis yang dibutuhkan untuk pemeriksaan visum maupun autopsi secara lengkap.
Atas rekomendasi dokter jaga, keluarga kemudian disarankan membawa jenazah Widi ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya untuk menjalani pemeriksaan autopsi.

Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengetahui penyebab kematian secara lebih pasti, termasuk memastikan apakah terdapat cedera atau kondisi medis tertentu yang berhubungan dengan kematian korban.

Namun, keluarga memilih tidak mengikuti rekomendasi tersebut. Mereka menolak jenazah Widi menjalani pembedahan dengan alasan tidak ingin dilakukan autopsi. Setelah itu, keluarga membawa jenazah Widi untuk dimakamkan.

Kematian Widi dalam proses penangkapan kini menjadi perhatian keluarga. Sejumlah hal yang dipertanyakan meliputi proses pengamanan, kondisi korban saat diamankan, perbedaan keterangan mengenai kondisi Widi ketika dibawa ke fasilitas kesehatan, serta dugaan adanya luka pada bagian tubuh korban.

Di sisi lain, dugaan bahwa Widi terlibat judi online maupun dugaan adanya penganiayaan dalam proses penangkapan masih memerlukan pembuktian. Keterangan dari kepolisian terkait kronologi penangkapan, kondisi Widi saat diamankan, alasan tindakan yang dilakukan petugas, serta hasil pemeriksaan medis menjadi penting untuk memberikan gambaran yang utuh mengenai peristiwa tersebut.

Keluarga berharap seluruh proses penanganan perkara dilakukan secara transparan sehingga penyebab pasti kematian Widi dapat diketahui dan tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.***

Comments (0)

Silakan Login untuk memberikan komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!