EnterPrime News - Masyarakat, khususnya perempuan yang beraktivitas di ruang publik, kembali diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi pelecehan seksual. Sebuah dugaan aksi perekaman secara diam-diam atau upskirting dengan modus tidak biasa terjadi di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.
Kasus tersebut menjadi perhatian setelah korban membagikan pengalamannya melalui media sosial. Dalam unggahannya, korban mengungkap dugaan seorang pria menggunakan sandal yang telah dimodifikasi untuk menyembunyikan telepon seluler yang diduga digunakan untuk merekam secara diam-diam dari bawah pakaian korban.
Peristiwa itu disebut terjadi di sebuah toko di kawasan Bintaro ketika korban sedang mengantre di kasir bersama kakaknya. Berdasarkan cerita korban, dirinya tiba di lokasi sekitar pukul 21.15 WIB dengan mengenakan daster panjang. Sekitar pukul 21.29 WIB, korban bersama kakaknya mulai mengantre di area kasir.
Namun, dari rekaman kamera pengawas atau CCTV toko, terduga pelaku disebut telah berada di lokasi sejak sekitar pukul 20.55 WIB. Selisih waktu tersebut kemudian menjadi perhatian korban karena dari rekaman CCTV terlihat pria tersebut berada di area toko sebelum korban tiba.
Korban menduga keberadaan pria tersebut bukan kebetulan. Rekaman CCTV disebut memperlihatkan gerak-gerik yang dinilai mengarah pada dugaan bahwa pria tersebut mencari kesempatan untuk mendekati korban.
Hal yang paling menghebohkan dari kasus tersebut adalah modus yang diduga digunakan. Terduga pelaku terlihat mengenakan sandal yang bagian atasnya telah dimodifikasi. Pada bagian tersebut diduga terdapat ruang untuk menempatkan sebuah telepon seluler.
Posisi kamera ponsel disebut diarahkan ke atas sehingga dapat mengarah ke bagian bawah pakaian orang yang berada di dekatnya. Saat korban berada di depan kasir, pria tersebut diduga beberapa kali menggerakkan kakinya mendekati bagian bawah pakaian korban.
Dalam rekaman CCTV, gerakan tersebut disebut terjadi secara berulang. Terduga pelaku bahkan diduga sengaja menyentuhkan atau menyenggolkan kakinya ke kaki korban untuk mendapatkan posisi yang dianggap sesuai. Korban pada awalnya tidak langsung menyadari adanya dugaan tindakan tersebut. Kecurigaan korban muncul setelah dirinya merasakan kontak fisik yang tidak biasa pada bagian kaki.
Pada percobaan berikutnya, korban mulai memperhatikan gerakan pria tersebut dengan lebih saksama. Saat itulah korban mendapati adanya telepon seluler yang berada pada sandal yang dikenakan pria tersebut.
Merasa ada sesuatu yang tidak beres, korban kemudian langsung menegur pria tersebut. Korban juga meminta agar telepon seluler milik pria tersebut diperiksa di lokasi untuk memastikan apakah terdapat rekaman dirinya.
Dalam pemeriksaan awal, video yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut tidak langsung ditemukan pada galeri utama telepon seluler.
Namun, pemeriksaan belum sempat dilakukan secara menyeluruh terhadap folder yang baru saja dihapus, penyimpanan tersembunyi, maupun kemungkinan aplikasi penyimpanan lainnya.
Situasi berubah ketika pria tersebut diduga panik dan segera meninggalkan toko. Ia kemudian melarikan diri menggunakan sepeda motor yang disebut terparkir di sekitar lokasi. Setelah kejadian, korban meminta pihak pengelola toko memperlihatkan rekaman CCTV.
Dari rekaman tersebut, korban mengaku semakin yakin bahwa kecurigaannya memiliki dasar. Rekaman memperlihatkan gerakan kaki pria tersebut serta posisi sandal yang diduga telah dimodifikasi untuk menempatkan ponsel. Rekaman CCTV kemudian dibagikan korban melalui media sosial dan menyebar di sejumlah platform, termasuk Instagram dan Threads.
Unggahan tersebut memicu berbagai reaksi dari masyarakat. Banyak pengguna media sosial mengecam dugaan tindakan tersebut dan meminta agar kasus serupa mendapat perhatian serius. Peristiwa itu juga kembali menyoroti persoalan keamanan perempuan ketika beraktivitas di ruang publik.
Korban mengaku mengalami trauma setelah kejadian tersebut. Ia kemudian memilih menceritakan pengalaman yang dialaminya kepada publik dengan harapan dapat menjadi peringatan bagi perempuan lain.
Korban mengingatkan perempuan agar lebih memperhatikan kondisi sekitar, terutama ketika berada di tempat ramai seperti pusat perbelanjaan, toko, transportasi umum, maupun lokasi lain yang mengharuskan seseorang berdiri atau mengantre dalam jarak berdekatan dengan orang lain. Ia juga berharap masyarakat tidak mengabaikan kontak fisik atau gerakan yang terasa mencurigakan.
Polres Tangerang Selatan juga belum memberikan keterangan resmi mengenai identitas maupun keberadaan pria yang diduga terlibat dalam kejadian tersebut. Kasus ini masih menjadi perhatian publik setelah rekaman CCTV dan kesaksian korban beredar luas di media sosial. Apabila korban melaporkan kejadian tersebut, kepolisian dapat melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengidentifikasi terduga pelaku, memeriksa rekaman CCTV, serta menelusuri perangkat yang diduga digunakan dalam aksi perekaman.
Masyarakat, khususnya perempuan, diimbau tetap waspada ketika beraktivitas di ruang publik dan segera melapor kepada petugas atau aparat berwenang apabila menemukan tindakan yang diduga mengarah pada pelecehan atau pelanggaran privasi.***